Standar Tak Tertulis Pimpinan Muhammadiyah

Schmu.id, Saat silaturahim ke seorang pucuk pimpinan Muhammadiyah, saya mendapat cerita langsung dari ybs. Cerita yang tidak banyak disampaikan kepada publik.

Suatu waktu beliau berkesempatan memberi pengajian di sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah. Hadir juga pejabat pemerintahan di situ. Oleh pejabat pemerintahan itu, pimpinan persyarikatan ini diberi “salam tempel”. Tidak sedikit untuk ukuran sebagian besar kita. 100 juta. Diterima.

Salam Tempel

Selepas acara, pimpinan persyarikatan ini kontak pejabat pemerintahan itu lagi. “Uangnya sudah saya berikan ke pihak kampus,” lapornya.

“Loh, jangan Yai. Itu untuk Yai pribadi,” pejabat itu kaget. Entah, dana dari kantong mana yang diberikan pejabat itu.

“Saya rasa akan lebih bermanfaat jika uang itu digunakan oleh kampus,” tegas Yai ini. Jadilah uang itu masuk ke kampus Muhammadiyah.

Cerita semacam ini banyak berserakan di Muhammadiyah. Teladan-teladan dari generasi senior yang harus dilanjutkan oleh kader-kader.

Jika mendengar cerita seperti ini, lalu dalam hati kita tebersit pikiran, “Wah Eman. Mending kita terima untuk pribadi. Kan memang diberikan untuk pribadi” atau “Mungkin sebagian bisa untuk pribadi” maka mungkin kita belum sepenuhnya pantas menjabat pimpinan di Muhammadiyah.

Penulis: AF Karimi

Humor Gus Dur, Kisah Pak AR Muhammadiyahkan Orang NU

Baca Juga:   Prodi Peternakan UMM - University of Adelaide Adakan 'Benchmark' Kurikulum Internasional
Khazanah IslamStandar Tak Tertulis Pimpinan Muhammadiyah

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini