Sri Mulyani Ramal Ekonomi Kuartal II Tumbuh 5,3%, Ini Indikatornya

Kementerian Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi selama April-Juni 2022 berada pada kisaran 4,8%-5,3%. Mesin pertumbuhan mulai bergeser dari konsumsi pemerintah ke peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, hingga ekspor-impor.

“Dengan aktivitas yang masih sangat kuat, kami akan lebih optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan II masih kuat di kisaran 4,8%-5,3% dengan kemungkinan titik sekitar 5%,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTA online. , Kamis (23/6).

Pertumbuhan ekonomi mulai didorong oleh konsumsi rumah tangga seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi. Investasi, menurut Sri Mulyani, juga akan meningkat seiring dengan peningkatan kapasitas produksi. Kegiatan perdagangan internasional baik untuk ekspor seiring dengan harga komoditas, impor juga masih tinggi namun masih mencatatkan surplus bersih.

“Ini tentu menggembirakan karena sekarang pertumbuhan ekonomi tidak lagi bergantung pada APBN. APBN bukan lokomotif utama pertumbuhan ekonomi karena sekarang mesinnya sudah mulai berkobar di konsumsi, investasi, dan ekspor,” kata Sri Mulyani.

Sejumlah indikator ekonomi utama menunjukkan penguatan ekonomi, terutama selama periode Ramadhan dan Lebaran. Mobilitas masyarakat tumbuh 18,6% pada triwulan II hingga 18 Juni 2022, meningkat signifikan dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,1%.

Indeks penjualan ritel juga tumbuh 5,4% setiap tahun di bulan Mei. Mandiri Spending Index bulan lalu juga terus menguat hingga 149,2 poin. Ini merupakan level tertinggi sejak awal 2020 atau sebelum Covid-19.

“Ini terutama masyarakat menengah ke atas yang belanja dengan kartu kredit dan ini juga menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi,” kata Sri Mulyani.

Sejumlah indikator juga menunjukkan penguatan dari sisi produksi. Impor bahan baku dan barang modal pada Mei tumbuh dua digit, masing-masing 33,9% dan 29,2%. Konsumsi listrik oleh industri meningkat sebesar 16,4%, serta konsumsi oleh dunia usaha yang juga tumbuh sebesar 9,3%. Kapasitas industri manufaktur juga membaik meski belum mencapai level pra-pandemi.

Baca Juga:   Usai Kunjungi Eropa, Jokowi Akan ke UEA untuk Bahas Investasi

Dari sisi perdagangan internasional, ekspor Mei tercatat Rp 21,5 miliar, sedangkan impor Rp 18,6 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia terus surplus selama 25 bulan berturut-turut.

Namun, Sri Mulyani mengatakan tantangan kini bergeser ke risiko volatilitas di sektor keuangan. Hal ini terlihat dari Indeks Volatilitas pasar saham (VIX) dan pasar obligasi (MOVE) yang naik tajam meski sempat kembali menunjukkan penurunan.

Indeks dolar naik lebih tinggi dari pertemuan pasar Fed bulan lalu. Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi dan melemah ke kisaran Rp 14.800 per dolar AS. Meski demikian, pelemahan rupiah masih lebih baik dari sejumlah negara seperti Filipina, India hingga Malaysia.

Berita ini kami Kurasi dari katadata.co.id dengan judul aseli Sri Mulyani Ramal Ekonomi Kuartal II Tumbuh 5,3%, Ini Indikatornya

Silahkan berlangganan konten kami di Google News

BeritaSri Mulyani Ramal Ekonomi Kuartal II Tumbuh 5,3%, Ini Indikatornya

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini