Peran Emirsyah Satar pada Kasus Korupsi Pesawat Garuda di Kejaksaan

Kejaksaan Agung telah menetapkan dua tersangka baru, terkait dugaan korupsi pengadaan pesawat PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk. (GIAA) pada periode 2011-2021. Mereka adalah mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, dan PT Mugi Rekso Abadi (MRA), Soetikno Soedarjo.

Menurut Jaksa Agung ST Burhanuddin, penetapan tersangka terhadap Emirsyah dilakukan sehubungan dengan tanggung jawabnya atas pelaksanaan pekerjaan selama menjabat sebagai direktur utama Garuda Indonesia periode 2006-2014.300, Airbus A320-Neo, ATR 72 -600, dan Bombardier CRJ 1000.

“Ini dimulai dari pengadaan, tentunya tentang kontrak-kontrak yang ada. Itu pasti,” kata Burhanuddin di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (27/6).

Dalam kasus ini, Emirsyah diduga membocorkan rencana pengadaan pesawat kepada Soetikno, pemilik perusahaan sebagai konsultan bisnis/komersial dari Rolls-Royce, Airbus, dan ATR. Hal ini bertentangan dengan Pedoman Pengadaan Armada (PPA) PT Garuda Indonesia.

Setelah mengetahui rencana tersebut, penyidik ​​di Kejaksaan Agung menduga Soetikno telah berkomunikasi dengan pihak manufaktur terkait pengadaan pesawat dari Garuda Indonesia. Selanjutnya, Soetikno mempengaruhi Emirsyah, dengan mengirimkan hasil analisis yang dibuat oleh pabrikan.

Analisis tersebut menjadi dasar teknis bagi Emirsyah untuk menginstruksikan tim pengadaan, untuk memilih pesawat Bombardier CRJ-1000 dan ATR 72-600.

“Tersangka bertindak sebagai perantara dalam menyampaikan gratifikasi dari manufaktur kepada tersangka ES (Emirsyah Satar),” jelas Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung dalam keterangan resminya, Senin (27/6). .

Selanjutnya Emirsyah bersama Direktur Teknik PT Garuda Indonesia periode 2007-2012 dan Direktur Produksi PT Citilink Indonesia periode 2012-2017, Hadinoto Soedigno; Seperti halnya Kapten Agus Wahjudo, diduga memerintahkan tim seleksi untuk membuat analisis dengan menambahkan subkriteria, melalui pendekatan Nett Present Value (NPV). Penambahan subkriteria tersebut dimaksudkan untuk memenangkan pesawat Bombardier CRJ-1000 dan ATR 72-600.

Baca Juga:   Nilai Transaksi Harian BEI Naik 27% Menjadi Rp 17,6 Triliun Minggu Ini

Hadinoto meninggal saat menjalani hukuman delapan tahun penjara. Sementara itu, Kapten Agus di pengadilan mengaku menerima suap sebesar US$ 1,4 juta dari Soetikno, dan mengembalikannya ke negara melalui rekening penampungan KPK atas permintaan penyidik.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus tersebut, yakni mantan Wakil Presiden Kantor Manajemen Strategis Setijo Awibowo; mantan Manajer Proyek Eksekutif, Agus Wahjudo; dan mantan Wakil Presiden Manajemen Perbendaharaan, Albert Burhan.

Kasus dugaan korupsi itu bermula dari pengadaan pesawat Bombardier CRJ-100 dan ATR 72-600 pada periode 2011-2021. Berdasarkan laporan keuangan PT Garuda Indonesia tahun 2019, terdapat kontrak pengadaan 25 pesawat ATR 72-600 dengan Avions de Transport Regional GIE untuk anak perusahaannya, Citilink Indonesia.

Pembelian pesawat tersebut merupakan bagian dari Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) untuk periode 2009-2014. PT Garuda Indonesia berencana menambah 50 unit pesawat ATR 72-600 dengan rincian sewa 45 unit dan pembelian 5 unit.

Dalam kasus ini, Kejaksaan Agung telah mengumumkan kerugian negara mencapai USD 609 juta atau sekitar Rp 8,8 triliun.

Kasus dugaan korupsi pengadaan pesawat Garuda Indonesia ini menambah daftar panjang kasus dugaan korupsi di lingkungan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Berdasarkan laporan Indonesia Corruption Watch (ICW), pada periode 2016-2021 terdapat 340 kasus suspek. Berikut profesi mereka:

Berita ini kami Kurasi dari katadata.co.id dengan judul aseli Peran Emirsyah Satar pada Kasus Korupsi Pesawat Garuda di Kejaksaan

Silahkan berlangganan konten kami di Google News

BeritaPeran Emirsyah Satar pada Kasus Korupsi Pesawat Garuda di Kejaksaan

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini