Panic Attack: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Schmu.id, Panic Attack: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya – Apakah Moms pernah mengalami serangan kecemasan? Serangan kecemasan ini juga biasa dikenal dengan panic attack.

Pada saat itu terjadi, mungkin jantung ikut berdegup kencang, berkeringat, dan Moms merasa seperti tidak bisa bernapas atau berpikir.

Kemudian, serangan ini tidak dapat diprediksi kapan datangnya, bahkan tanpa pemicu yang jelas.

Jika ini yang dialami, bisa jadi Moms memiliki jenis gangguan kecemasan yang disebut panic attack atau serangan panik.

Jangan dibiarkan ya, Moms, karena panic attack yang tidak diobati dapat menurunkan kualitas hidup kita.

Karena, ini dapat menyebabkan ketakutan dan gangguan kesehatan mental lainnya, termasuk masalah di tempat kerja atau sekolah, dan juga memicu isolasi sosial.

Di bawah ini, Orami sudah merangkum informasi seputar panic attack. Jangan sampai lupa dicatat, ya!

Apa Itu Panic Attack?

Panic Attack: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Apa Itu Panic Attack?

Melansir StatPearls Journal, panic attack adalah suatu perasaan takut yang muncul secara tiba-tiba dan terasa intens, kadang tanpa penyebab yang jelas.

Kondisi ini bisa dialami sesekali dalam hidup, yang biasanya menghilang saat keadaan atau situasi pemicunya berakhir.

Namun, jika serangan panik terjadi secara berulang dan untuk jangka waktu yang lama, maka kondisi ini disebut gangguan panik atau panic disorder.

Dikutip dari The National Institute of Mental Health Information Resource Center, orang dengan panic disorder memiliki serangan ketakutan berulang dan tiba-tiba.

Ini berlangsung selama beberapa menit atau lebih lama. Inilah yang disebut dengan serangan panik.

Serangan panik atau panic attack ditandai oleh ketakutan akan bencana atau kehilangan kendali, bahkan ketika tidak ada bahaya yang nyata.

Seseorang mungkin juga memiliki reaksi fisik yang kuat selama serangan panik.

Bahkan, bisa terasa seperti mengalami serangan jantung. Serangan panik ini dapat terjadi kapan saja.

Banyak pengidap panic attack ini khawatir dan takut akan kemungkinan mengalami serangan lain.

Seseorang dengan panic attack bisa jadi merasa putus asa dan malu karena dia tidak dapat melakukan rutinitas normal seperti orang lain.

Berdasarkan Anxiety and Depression Association of America, panic attack ini sering terjadi pada akhir fase remaja atau dewasa awal pada usia 18-25 tahun.

Menurut penelitian tersebut, lebih banyak perempuan daripada pria yang mengalami panic attack ini.

Tetapi, tidak semua orang yang mengalaminya berarti memiliki panic disorder, Moms.

Dalam mendiagnosisnya, psikolog atau psikiater dapat menentukan diagnosis serangan panik dari wawancara medis mendetail dan pemeriksaan fisik.

Baca Juga:   Beasiswa Untuk Kuliah S1 Di Jerman, Ada Incaranmu?

Tanda-Tanda Panic Attack

panic diorder

Melansir Mayo Clinic, orang dengan panic disorder mungkin memiliki tanda berikut:

  • Berkeringat secara berlebihan
  • Merasa gelisah atau berpikir secara irasional
  • Mulut terasa kering
  • Otot menjadi tegang
  • Merasa sangat takut
  • Gemetar
  • Sesak napas
  • Jantung terasa berdebar
  • Detak jantung meningkat
  • Kram perut
  • Nyeri dada
  • Mual
  • Pusing atau pingsan

Sementara, gejala panic attack sering terjadi tanpa alasan yang jelas. Biasanya, gejalanya tidak sebanding dengan tingkat bahaya yang ada di lingkungan.

Panic attack dapat berlangsung selama 5-10 menit, namun bisa juga terjadi secara berkesinambungan dalam waktu 2 jam.

Panic attack bisa menakutkan, mengganggu, dan melemahkan.

Banyak gejalanya yang serupa juga ditemukan pada sejumlah penyakit umum, seperti:

  • Penyakit jantung
  • Masalah tiroid
  • Gangguan pernapasan
  • Penyakit saluran napas lainnya

Orang yang mengalami panic attack sering membuat beberapa kunjungan ke ruang gawat darurat atau dokter.

Mereka berpikir memiliki penyakit yang mengancam jiwa.

Karena serangan ini tidak dapat diprediksi, kondisi ini dapat secara signifikan memengaruhi fungsi tubuh kita.

Karena itu, penderita panic attack harus segera mencari pengobatan dan selalu waspada ya, Moms.

Baca Juga: 3 Rekomendasi Tempat Chiropractic Jakarta untuk Bantu Menyelaraskan Tulang Belakang

Penyebab Panic Attack

panic disorder

Ada 2 hal yang jadi penyebab dan pemicu panic disorder. Berikut ulasannya, Moms.

1. Genetik

Penyebab panic attack tidak dipahami dengan jelas.

Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa panic attack mungkin terkait secara genetik.

Karena itu, gangguan panik kadang-kadang terjadi dalam keluarga, tetapi tidak ada yang tahu pasti mengapa beberapa anggota keluarga memilikinya sementara yang lain tidak.

2. Transisi Kehidupan

Penyebab panic attack berikutnya dikaitkan dengan transisi signifikan yang terjadi dalam kehidupan, misalnya:

  • Berhenti kuliah
  • Menikah
  • Memiliki anak pertama
  • Stres

Semua fase ini adalah transisi kehidupan utama yang dapat membuat stres dan mengarah pada perkembangan panic attack.

Melansir National Health Service, para peneliti telah menemukan bahwa beberapa bagian otak, serta proses biologis, memainkan peran kunci dalam ketakutan dan kecemasan.

Beberapa peneliti berpikir bahwa pengidap panic attack salah mengartikan sensasi tubuh yang tidak berbahaya sebagai ancaman.

Dengan mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana fungsi otak dan tubuh pada orang dengan gangguan panik, para ilmuwan dapat menciptakan perawatan yang lebih baik.

Para peneliti juga mencari cara dimana stres dan faktor lingkungan dapat berperan sebagai penyebab panic attack.

Selain itu, ada pula kondisi lainnya yang bisa menyebabkan panic attack, seperti:

  • Mengalami trauma atau pengalaman yang membuat diri sangat tertekan
  • Konsumsi kafein, alkohol, dan NAPZA
  • Kondisi yang membuat penderita cemas dan tidak nyaman, misalnya menonton film horor dan mengalami turbulensi dalam pesawat

Perbedaan Panik pada Umumnya dan Panic Attack

Panic disorder sebenarnya merupakan payung besar yang melingkupi 6 macam gangguan psikis, yaitu :

  • Generalized anxiety disorder (GAD)
  • Serangan panik atau panic attack
  • Obsessive-compulsive disorder (OCD)
  • Fobia
  • Social anxiety disorder
  • Post-traumatic disorder (PTSD)
Baca Juga:   Penyebab Penyakit Cacar Monyet, Gejala, dan Cara Mengobatinya

Moms mungkin pernah merasa takut dan panik, terutama di posisi yang bisa mengancam nyawa.

Namun, saat bahaya tersebut usai, biasanya gejala kepanikan juga akan menghilang.

Kepanikan kini tergantikan oleh rasa lega karena kita berhasil melewati krisis dan kembali melanjutkan hidup. Hal ini sangat berbeda dengan panic attack, Moms.

Seseorang dengan panic attack bisa menjalani hari seperti orang normal pada umumnya, namun tiba-tiba ada rasa takut dan cemas yang muncul.

Jantung akan berdebar kencang sampai terasa menyakitkan, muncul keringat dingin, dan mata berkunang-kunang.

Mendadak, penderita panic disorder juga ingin pingsan, merasa gila, atau bahkan seperti ingin mati.

Lalu, setelah segalanya terlewati, kepanikan tersebut berubah menjadi rasa lemas, lelah, dan kebingungan.

Biasanya, orang dengan panic disorder kerap mengalami hal berikut:

  • Kepanikan mendadak tanpa sebab dan tidak berkaitan dengan situasi yang sedang dihadapi
  • Terus diteror rasa takut bahwa serangan ini akan terjadi lagi
  • Mudah ketakutan dengan sesuatu yang belum terjadi
  • Merasa lemas dan lelah setelah merasa panik

Moms mungkin mengalami satu kondisi psikis serius namun mudah ditangani, yaitu serangan panik alias panic attack.

Bedanya Panic Attack dan Anxiety Disorder

Anxiety Disorder

Foto: Orami Photo Stock

Di sisi lain, serangan panik adalah sebuah kondisi turunan dari anxiety attack yang memiliki karakteristik lebih spesifik.

Istilah “panic attack” dan “anxiety attack” sering kali digunakan untuk mendeskripsikan satu sama lain.

Padahal, dalam dunia medis, anxiety attack merupakan istilah yang kurang tepat.

Melansir Physical Therapy, anxiety disorder adalah istilah untuk menjelaskan gangguan mental yang memiliki ciri khas gejala kecemasan.

Sedangkan panic attack adalah suatu perasaan takut yang muncul secara tiba-tiba dan terasa intens, kadang tanpa penyebab yang jelas.

Pada anxiety disorder, gejala kecemasan dapat muncul karena adanya pemicu yang jelas, misalnya fobia ketinggian, dan sebagainya.

Gejala tersebut bisa berlangsung selama beberapa menit, jam, hari, minggu, atau bahkan berbulan-bulan, tergantung tingkat keparahan yang dialami setiap pengidap.

Saat seseorang mengalami panic attack, rasa panik yang dialami bisa muncul tiba-tiba, tanpa adanya alasan atau pemicu yang jelas.

Gejala panic attack bisa berlangsung selama kurang lebih 10 menit atau lebih.

Baca Juga: Review Emina Creamy Tint Sun Beam oleh Moms Orami, Harganya Terjangkau!

Cara Meredakan dan Mengatasi Panic Attack

panic attack.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari Mind Organization, panic attack bisa menakutkan, tetapi ada beberapa hal yang dapat Moms lakukan untuk membantu diri mengatasinya.

Ketika mengalami panic attack, Moms bisa melakukan:

  • Fokus pada pernapasan
  • Diam dan cobalah untuk mengontrol pernapasan
  • Fokus pada indra. Misalnya, makan permen atau memeluk sesuatu yang lembut
  • Cobalah teknik grounding
Baca Juga:   Gangguan Cerna Jadi Gejala Awal Kenali Hepatitis Akut Anak

Namun bila panic attack sering kali muncul, tak terkontrol, serta mulai menggangu aktivitas, maka Moms mungkin harus menemui psikolog atau psikiater.

Penanganan dapat dilakukan pemberian obat dan dengan psikoterapi.

Keduanya dapat dilaksanakan secara bersamaan atau hanya satu saja, tergantung dari kondisi dan tingkat keparahannya.

Umumnya, penanganan panic attack berupa:

1. Konsumsi Obat-obatan

Jika panic attack terus berulang maka psikiater akan meresepkan obat guna mencegah kemunculannya.

Obat yang digunakan untuk mengobati gangguan panik adalah Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRIs).

Atau juga beberapa jenis obat penenang dan antidepresan, seperti:

  • Fluoxetine
  • Sertraline
  • Venlafaxine
  • Alprazolam
  • Clonazepam

Bisa juga dengan benzodiazepin (umumnya digunakan sebagai obat penenang) termasuk diazepam atau clonazepam.

Serta monoamine oxidease inhibitor (MAOIs), jenis antidepresan lain yang jarang digunakan karena efek samping yang jarang tetapi serius.

Penggunaan obat tidak bisa dihentikan secara tiba-tiba, melainkan dengan mengurangi dosisnya secara perlahan dan di bawah pengawasan dokter.

2. Melakukan Terapi

Selanjutnya, Moms juga mungkin direkomendasikan melakukan terapi untuk mengatasi panic attack.

Jenis terapi yang diterapkan untuk mengobati penderita serangan panik adalah terapi perilaku kognitif.

Dalam terapi ini, penderita akan dibimbing untuk memahami dan meyakini bahwa serangan panik tidak membahayakan.

Penderita juga akan diajari mengubah respons perasaan dan perilaku terhadap pola pikiran negatif.

Sehingga nantinya membantu mereka dalam mengatasi serangan panik secara mandiri.

3. Cara Meredakan Panic Attack Lainnya

Selain perawatan ini, ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan untuk meredakan panic attack. Salah satunya dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti:

  • Cukup tidur dan berolahraga
  • Makan makanan yang sehat
  • Menghindari penggunaan stimulan seperti kafein

Selain itu, penting juga agar Moms mulai beralih ke keluarga dan teman yang kita percayai untuk mendapatkan dukungan

Cara Mencegah Panic Attack

panic

Moms, tidak bisa dipungkiri bahwa ada kemungkinan jika panic attack tidak bisa diatasi.

Namun, kita dapat mengurangi gejala dengan menghindari alkohol dan stimulan seperti kafein serta obat-obatan terlarang.

Penting juga untuk memerhatikan jika kita mengalami gejala kecemasan setelah peristiwa dalam hidup yang cukup berat atau traumatis.

Jika kita merasa terganggu oleh sesuatu yang dialami, diskusikan situasinya dengan psikolog atau psikiater ya, Moms.

Nah, itulah beberapa hal tentang panic attack yang perlu Moms ketahui.

Jika Moms atau orang terdekat mengalami gejalanya, tidak ada salahnya untuk mencari pengobatan, ya!

Baca juga: Manfaat Kentang Rebus untuk Kesehatan

Berita ini kami Kurasi dari orami.co.id dengan judul aseli Panic Attack: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Silahkan berlangganan konten kami di Google News

EdupediaPanic Attack: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini