Mengapa Hajar Aswad Berubah Warna Sejak 1400 Tahun Lalu? Ini Sejarah dan Penjelasannya

Schmu.id :: Mengapa Hajar Aswad Berubah Warna. Banyak orang masih mempertanyakan sejarah batu Hajar Aswad yang berada di sudut tenggara Ka’bah. Hajar Aswad berada di sudut tenggara Ka’bah, yang merupakan tempat umat Islam untuk bertawaf ketika menunaikan ibadah haji.

Beberapa kisah menuliskan, jika Hajar Aswad adalah batu lonjong tidak beraturan dengan warna hitam kemerahan. Batu Hajar Aswad kerap menjadi rebutan umat Islam untuk mencium atau sekadar menyentuhnya saat melaksanakan ibadah haji.

Sejarah Pembangunan Ka’bah

Mengapa Hajar Aswad Berubah Warna
Ilustrasi.

Suatu kisah yang ditulis dalam buku “Sejarah Ka’bah”, yang bercerita tentang rumah suci yang tak lapuk dimakan zaman, karangan Ali Husni Al-Kharbuthli. Dalam buku tersebut ia menerangkan, bahwa pada saat pembangunan Ka’bah mencapai tahap akhir, ternyata beberapa bagian sudut masih kekurangan batu.

Menurut sejarawan dan pemikir muslim dari Persia, Ath-Thabari, saat ingin menyempurnakan bangunan Ka’bah, Nabi Ismail As mencari bahan yang bisa melengkapi sudut kosong tersebut.

Namun ketika Nabi Ismail As hendak mencari bahan bangunan itu, Nabi Ibrahim As memerintahkan kekosongan sudut Ka’bah itu hanya diisi dengan batu yang telah dipilihnya.

“Ketika Nabi Ismail ingin menyempurnakan Ka’bah dengan sebuah benda, tetapi Nabi Ibrahim berkata, ‘Jangan!’, terang Nabi Ibrahim,” dikutip dari buku “Sejarah Ka’bah”, kisah rumah suci yang tak lapuk dimakan zaman, karangan Ali Husni Al-Khabuthli.

“Carilah batu seperti yang aku perintahkan,” kata Nabi Ibrahim As.

Mendengar perintah itu, Nabi Ismail As pun segera pergi mencari batu yang diperintahkan Nabi Ibrahim As. Ketika kembali, ternyata Nabi Ibrahim sudah meletakkan sebuah batu di sudut kosong itu.

Baca Juga:   Subhanallah! Airnya Tak Pernah Habis, Ternyata Sosok Inilah yang Menggali Mata Air Zam-Zam

“Wahai ayah, dari manakah engkau mendapat batu itu?” tanya Nabi Ismail As.

“Yang membawa batu ini adalah dia yang tidak dapat menunggumu, yaitu Malaikat Jibril. Ia membawanya dari langit,” jawab Nabi Ibrahim As.

Mengenai penghormatan kepada Hajar Aswad dalam buku ini dijelaskan, para ulama berpendapat bahwa penghormatan itu dilakukan tak lain karena Hajar Aswad memiliki keterkaitan dengan suatu yang suci dan mulia. Yakni mengenai sejarah pembangunan Ka’bah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Hajar Aswad Batu Berasal Dari Surga

Pemerintah Arab Saudi merilis foto terbaru yang menampilkan Hajar Aswad dari dekat. Gambar tersebut belum pernah dilihat sebelumnya. Batu itu difoto selama tujuh jam untuk menghasilkan satu gambar dengan resolusi tertinggi.

Gambar itu berukuran hingga 49.000 megapixel dan membutuhkan waktu selama 50 jam untuk mengembangkannya.

Umat Islam percaya bahwa Hajar Aswad diturunkan langsung dari surga dan diberikan kepada Nabi Ibrahim oleh Malaikat Jibril. Batu itu dikelilingi bingkai yang terbuat dari perak murni, dan terletak di sudut Ka’bah, sekira satu setengah meter dari permukaan tanah.

Selama umrah atau haji, umat Islam dianjurkan untuk menyentuh batu itu setiap kali selesai tawaf (mengelilingi) sekitar Ka’bah. Namun, karena banyaknya peziarah yang berkunjung setiap tahun, diperkenankan bagi jamaah untuk melambai ke arah Hajar Aswad dari kejauhan.

Peristiwa Penting Hajar Aswad

Di antara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu ini, adalah yang terjadi pada Tahun 16 sebelum hijrah (606 M), yaitu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Kakbah. Pada saat itu, hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah 5 hari 5 malam mereka dalam situasi gawat.

Baca Juga:   Apa Yang Terjadi Pada Tubuh Kita Saat Berpuasa?

Itu karena keempat kabilah dalam suku Quraisy terus bersitegang, ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing. Yaitu tentang siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ke tempat semula, karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.

Akhirnya muncul usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mukhzumi yang mengatakan; “Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari ini.”

Pendapat sesepuh Quraisy, Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang yang pertama masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah (Rasulullah SAW).

Sudah menjadi rahasia umum, pada masa itu akhlak dan budi pekerti Rasulullah SAW telah terkenal jujur dan bersih, sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya).

Muhammad muda yang organ tubuhnya pernah dibersihkan lewat ‘operasi’ oleh malaikat, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji.

Lalu apa jawaban dan tindakan Muhammad terhadap usul sesepuh Quraisy itu? Muhammad menuju tempat penyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu di tengah-tengah sorban.

Kemudian Rasulullah SAW meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu.

Lalu, mereka bersama-sama menggotongnya ke sudut di mana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ke tempat semula.

Rahasia Hajar Aswad

Mengapa Hajar Aswad Berubah Warna

Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberikan mudarat atau manfaat, begitu juga dengan Kakbah yang hanya terbuat dari batu.

Akan tetapi, apa yang dilakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut adalah sekadar mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah SAW. Jadi, apa yang dilakukan bukanlah menyembah batu, dan tidak pula menyembah Ka’bah.

Baca Juga:   Tak Lekang oleh Zaman, Berikut 9 Masjid Tertua di Dunia

Umar bin Khattab berkata, “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu, kalaulah bukan karena aku melihat kekasihku Nabi SAW menciummu dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuhmu atau menciummu.”

Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk tawaf mengelilingi Ka’bah, dan Dia pula yang telah memerintahkan untuk mencium Hajar Aswad.

Rasulullah SAW juga melakukan itu semua, dan tentu saja apa yang dilakukan oleh beliau pastilah berasal dari perintah Allah SWT. Sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya dalam Al Quran Surah An Naim ayat 53.

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS An Naim: 53).

Hajar Aswad berasal dari surga, batu ini pula yang menjadi pondasi pertama bangunan Ka’bah. Batu ini menghitam akibat banyaknya dosa manusia yang melekat di sana pada saat mereka melakukan pertaubatan.

Tidaklah orang yang beriman merasa malu jika hati mereka menghitam akibat dosa yang telah dilakukan. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits sebagai berikut;

“Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih. Lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam.” (HR Tirmidzi).

Hajar Aswad juga merupakan satu satunya batu dari surga yang mengucapkan salam penghormatan kepada Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui sebuah batu di Makkah yang pernah mengucapkan salam penghormatan kepadaku sebelum aku diangkat menjadi utusan (Rasul). Sesungguhnya aku sekarang benar-benar masih mengetahui tempatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir Al Quran Surah Al Baqarah ayat 127).

Wallahu’alam bishawab.

Baca Juga : 5 Amalan Doa Ini Membuat Rezeki Mengalir Deras, Apa Saja?

Khazanah IslamMengapa Hajar Aswad Berubah Warna Sejak 1400 Tahun Lalu? Ini Sejarah dan...

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini