BI Siap Ubah Kebijakan Respons Kondisi Ekonomi, Suku Bunga akan Naik?

Bank Indonesia memberikan sinyal baru terkait kebijakan suku bunga acuan. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan siap melakukan penyesuaian kebijakan dengan melihat kondisi perekonomian saat ini.

BI telah mempertahankan suku bunga acuan pada level terendah sepanjang masa sebesar 3,5% sejak Februari 2021. Perry juga sebelumnya mengatakan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga bahkan ketika The Fed mulai agresif menaikkan suku bunga.

Namun, menurut Perry, perekonomian global diwarnai ketidakpastian seiring meningkatnya risiko stagflasi seiring kenaikan suku bunga kebijakan global, serta perluasan kebijakan proteksionisme oleh berbagai negara. Oleh karena itu, menurut dia, BI akan terus memantau kondisi perekonomian, merumuskan dan menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan stabilitas keuangan.

“Termasuk penyesuaian lebih lanjut pendirian kebijakan bila diperlukan,” kata Perry dalam keterangan tertulis, Senin (6/5).

Perry mengatakan para pemangku kepentingan internasional saat ini tetap percaya diri dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia. Hal ini terlihat dari keputusan lembaga pemeringkat (R&I) untuk mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB+ (Sayainvestasi Grade) oleh pandangan stabil.

Bank sentral juga akan terus mengupayakan kerja sama kebijakan dengan pemerintah guna mendukung percepatan pemulihan ekonomi. Dalam penilaian pemerintah, ekonomi Indonesia tahun ini akan tumbuh pada kisaran 4,8%-5,5%, lebih besar dari tahun lalu sebesar 3,7%.

Perry juga menyebutkan sejumlah indikator kondisi eksternal masih menunjukkan resistensi eksternal. Neraca transaksi berjalan tahun lalu surplus dan berlanjut pada tiga bulan pertama tahun ini. Transaksi yang sedang berjalan diperkirakan akan kembali defisit tahun ini tetapi masih pada tingkat yang terkendali.

Ia masih optimistis dengan kondisi cadangan devisa Indonesia yang pada akhir Mei lalu sebesar US$ 135,6 miliar. Nilai ini setara dengan lebih dari enam bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah. Nilai tersebut juga masih jauh di atas utang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo dalam satu tahun.

Baca Juga:   Telkom Kawal Akselerasi Ekosistem Ekonomi Digital

BI telah berulang kali menyatakan bahwa hal itu hanya akan dilakukan jika ada tanda-tanda inflasi yang meningkat secara fundamental. Dalam laporan BPS terbaru, inflasi inti masih berada di bawah titik tengah sasaran inflasi BI, sebesar 2,63% per tahun, sementara turun secara bulanan dari 0,23% pada Mei menjadi 0,19% pada Juni.

Realisasi inflasi inti BI tersebut sejalan dengan perkiraan BI bahwa inflasi inti bulan Juni memang akan naik, namun masih akan berada di bawah titik tengah target BI atau di bawah 3%.

“Artinya BI masih melihat bulan ini masih ada ruang untuk kita pantau terus. BI siap jika harus menyesuaikan kebijakan suku bunga jika ada tanda-tanda kenaikan inflasi inti,” kata Deputi Gubernur BI Dody Budi. Waluyo dalam rapat bulanan BI, Kamis (23/6).

Berita ini kami Kurasi dari katadata.co.id dengan judul aseli BI Siap Ubah Kebijakan Respons Kondisi Ekonomi, Suku Bunga akan Naik?

Silahkan berlangganan konten kami di Google News

BeritaBI Siap Ubah Kebijakan Respons Kondisi Ekonomi, Suku Bunga akan Naik?

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini