Banyak Startup Tutup dan PHK, Bos Lippo: Ini Musim Semi

Beberapa memulai penutupan layanan, kesulitan membayar gaji karyawan, dan pemutusan hubungan kerja (PHK) selama pandemi corona. Direktur Eksekutif Lippo Group John Riady menilai, justru inilah musim semi bagi startup yang berkinerja baik.

Berdasarkan catatan Startup Ranking, terdapat 2.219 startup di Indonesia. John menilai, memulai berfokus pada dua hal untuk menarik investor, yaitu:

  • Untuk dapat bersaing, mereka berusaha agar pelayanan dapat diterima secara luas oleh masyarakat
  • Mendorong keandalan dan inovasi digital berkelanjutan.

Menurutnya, persaingan dalam menguasai pasar dan mencari talenta digital, dihadapkan pada arus modal dan kelangkaan talenta yang semakin tersendat.

Berdasarkan riset McKinsey dan Bank Dunia, Indonesia membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital dari 2015 hingga 2030. Artinya, ada kebutuhan 600 ribu ahli di bidang siber per tahun.

Namun, hanya 20% dari total 4.000 kampus di Indonesia yang memiliki program studi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga mencatat, ada kesenjangan bakat sekitar 400 ribu – 500 ribu per tahun.

Kelangkaan talenta digital menaikkan biaya operasional berbagai startup.

Di tangan satunya, memulai gencar menerapkan strategi agresif, salah satunya ‘membakar uang’. Hal ini bertujuan untuk memperluas pasar.

Alhasil, efisiensi berupa PHK dinilai lebih rasional bagi memulai.

Menurut John Riady, krisis talenta digital dan persaingan pasar yang tidak sehat terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang memburuk.

“Kebutuhan modal besar dalam pengembangan startup harus dihadapkan pada situasi inflasi yang tinggi. Hal ini menyebabkan berbagai pihak menahan dana. Apalagi saat ini ada gesekan dari kebijakan The Fed yang menyedot aliran modal global,” kata John dalam keterangan pers, Selasa (28/6).

Baca Juga:   Hari Pertama Tugas, Bos Baru OJK Rapat Bahas Risiko Stagflasi Global

John yang juga merupakan praktisi modal ventura di bawah Grup Lippo memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan berbagai memulai. Melalui PT Venturra Capital telah merambah ke ekosistem ekonomi digital sejak tahun 2015.

Memulai didukung oleh Venturra Capital antara lain Ruangguru, OVO, Sociola, dan Grab. “Sekarang masih ada belasan yang kami kembangkan,” kata John.

John menilai, ambruknya beberapa bisnis memulai disebabkan oleh berbagai kesalahan persepsi. Yang paling mendasar, adalah persepsi terkait prospek startup di tengah maraknya digitalisasi.

Soalnya, pandemi corona yang memicu berbagai terobosan digital ternyata tidak membantu momentum memulai menjadi lebih besar.

“Apa artinya? Di sini, itu akan bertahan bukan hanya memulainamun start-up yang siap dengan model dan prinsip bisnis untuk menghadirkan solusi berkelanjutan atas permasalahan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, ada empat pilar investasi digital yang digarap Lippo, yaitu:

  1. Pendanaan awal
  2. Pendanaan memulai pra-IPO
  3. Kemitraan digital dengan entitas global
  4. Kolaborasi digital dengan jaringan bisnis konvensional

“Kami mendanai berbagai inisiatif sejak awal, memulai yang matang dan siap untuk IPO untuk membangun memulai dengan mitra global,” kata John.

“Ini semua didorong oleh prinsip yang sama, yaitu memulai harus mampu memecahkan dan memecahkan masalah-masalah masyarakat dalam bentuk apapun. Ini yang akan bertahan,” imbuhnya.

Kesalahpahaman lain adalah euforia digitalisasi yang tidak masuk akal. Ini memicu tren serba digital lebih baik daripada konvensional.

Sebaliknya, John menilai berbagai senjata digital tidak akan efektif jika tidak didukung dengan layanan fisik atau konvensional. Dia mencontohkan berbagai raksasa digital di China, kemungkinan mengakuisisi berbagai perusahaan konvensional yang memiliki jaringan bisnis fisik.

“Ini adalah strategi kolaborasi, katanya saluran serba ada. Dengan menggabungkan keunggulan layanan digital dan jaringan bisnis fisik, maka akan mendukung peningkatan kinerja,” ujarnya.

Baca Juga:   Punya Firasat Buruk soal Ekonomi, Elon Musk Akan PHK 10% Pegawai Tesla

“Khususnya di Indonesia, sebagian besar aktivitas dan gaya hidup masyarakat belum bisa sepenuhnya meninggalkan pola konvensional,” tambah John.

Strategi omnichannel diterapkan di berbagai jaringan bisnis Grup Lippo. Salah satunya adalah kerjasama strategis antara ekosistem GoTo dengan Matahari Putra Prima (MPPA).

Kerja sama tersebut diklaim menuai hasil positif yang tergambar dari pertumbuhan pendapatan.

Oleh karena itu, John menilai kondisinya sedang berjalan lancar memulai PHK atau bahkan penutupan, merupakan momentum seleksi alam bagi ekosistem digital. “Yang bertahan adalah mereka yang berkinerja baik, serta prospek yang mampu memenuhi kebutuhan pasar,” ujarnya.

Berita ini kami Kurasi dari katadata.co.id dengan judul aseli Banyak Startup Tutup dan PHK, Bos Lippo: Ini Musim Semi

Silahkan berlangganan konten kami di Google News

BeritaBanyak Startup Tutup dan PHK, Bos Lippo: Ini Musim Semi

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini