Ada Zombi Unicorn, Investor Sarankan Startup Genjot Profit Sebelum IPO

Istilah ‘zombie unicorn’ muncul di Silicon Valley, Amerika Serikat (AS) karena banyak perusahaan teknologi yang merumahkan karyawannya. Sentimen di balik kondisi ini dinilai berpengaruh pada rencana memulai Indonesia untuk pencatatan saham publik atau IPO pertamanya tahun ini.

Analis PT Kanaka Hita Solvera (KHS) William Wibowo menyarankan memulai menunggu momentum yang tepat dan penguatan profitabilitas sebelum IPO. “Hal ini mengingat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemungkinan akan mengalami tren penurunan dalam waktu dekat ini,” ujarnya kepada Katadata.co.idSenin (23/5).

Menurut dia, harga saham perusahaan teknologi global turun karena sentimen negatif, seperti inflasi dunia yang tinggi, kebijakan bank sentral AS, kenaikan suku bunga The Fed, dan kekhawatiran geopolitik.

Di Indonesia, tren penurunan harga saham telah terjadi memulai yang memiliki IPO seperti Bukalapak dan GoTo. Menurutnya, ada kemungkinan tren penurunan harga saham GoTo dan Open sudah berakhir.

Namun, dengan catatan saham tidak menembus harga terendah. “Jika level harga terendah berhasil ditembus, berarti tren penurunan ini akan terus berlanjut,” ujarnya.

Sementara itu, Co-Founder dan Managing Partner Ideosource and Gayo Capital, Edward Ismawan Chamdani, memperkirakan kondisi koreksi pasar atau tren penurunan harga saham perusahaan teknologi akan membutuhkan waktu lama untuk pulih. “Mungkin akan bertahan satu sampai dua tahun,” katanya.

Dengan itu, dia menyarankan bahwa memulai yang berencana IPO tahun ini tak perlu tunda lagi. Sebab, akan memakan waktu terlalu lama untuk menunggu situasi berubah.

“Sebagai catatan, memulai mereka yang merencanakan IPO perlu berubah arah dan model bisnis untuk bisa membuktikan ketangguhan dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.

Memulai juga perlu meningkatkan laba bersih dan aset fisik terlebih dahulu untuk meningkatkan kepercayaan investor.

Baca Juga:   Filantropis dan Investor Dunia Bertemu di Bali, Beri Masukan untuk G20

“Kebutuhan pasar saat ini adalah memulai yang dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba riil,” kata Edward.

Direktur Utama Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro juga mengatakan, untuk memulai yang sedang merencanakan IPO, tidak ada salahnya tetap bertindak sesuai rencana. “Investor akan senang jika IPO. Ini akan membawa likuiditas kepada investor,” katanya.

Tetapi, memulai yang merencanakan IPO harus memastikan bahwa ia mencapai profitabilitas. “Kalau ada road map untung, dia bisa IPO,” kata Eddi.

Sebelumnya, perusahaan modal ventura Jungle Ventures menyarankan memulai portofolionya untuk tidak terburu-buru IPO.

Founding Partner Jungle Ventures Amit Anand juga menyampaikan, tiga memulai portofolionya menunda rencana IPO. Dia tidak merinci nama startup yang dimaksud.

Namun, Kredivo adalah salah satunya memulai Portofolio Jungle Ventures. Pada bulan Maret, perusahaan teknologi keuangan (tekfin) mengumumkan pembatalan merger dengan perusahaan cek kosong (SPAC) VPC Impact Acquisition Holdings II.

Anand mengatakan Jungle Ventures memang merekomendasikannya memulai portofolio untuk tidak terburu-buru kembali ke pasar, mengingat volatilitas baru-baru ini dan kendala sisi penawaran.

“Kami melihat sedikit koreksi besar,” kata Anand seperti dikutip CNBC Internasional, akhir pekan lalu (19/5). “Jika mereka bisa, mereka harus memperhatikan ini sedikit lebih lama sebelum kembali ke pasar sehingga mereka memiliki sedikit lebih banyak prediktabilitas.”

Volatilitas harga saham sedang dirasakan oleh perusahaan teknologi di negara lain, seperti di Silicon Valley, AS. Beberapa dari mereka juga melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Silicon Valley merupakan pusat inovasi di Amerika yang mencetak banyak perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Facebook, Google, Netflix, Tesla, Twitter hingga Yahoo. Terletak di selatan San Francisco, California, AS. Wilayah ini menampung sekitar 2.000 perusahaan teknologi.

Baca Juga:   OJK: Jumlah Investor Pasar Modal Capai 8,8 Juta per Awal Juni 2022

Sejumlah perusahaan teknologi di Silicon Valley, AS mencatatkan kinerja yang buruk dan disebut sebagai zombie unicorn. Ungkapan zombie unicorn mengacu pada startup bernilai tinggi tetapi goyah yang membutuhkan investor baru untuk menyelamatkan bisnis mereka.

Berita ini kami Kurasi dari katadata.co.id dengan judul aseli Ada Zombi Unicorn, Investor Sarankan Startup Genjot Profit Sebelum IPO

Silahkan berlangganan konten kami di Google News

BeritaAda Zombi Unicorn, Investor Sarankan Startup Genjot Profit Sebelum IPO

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini